BANYAK yang masih menganggap outbound perusahaan identik dengan lomba estafet, yel yel, atau permainan yang membuat sepatu berubah warna menjadi cokelat lumpur.
Padahal, cara pandang tersebut sudah mulai bergeser.
Saat ini, banyak perusahaan tidak lagi menjadikan outbound sebagai acara hiburan semata.
Sebaliknya, kegiatan tersebut mulai dirancang sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia.
Salah satu konsep yang sering dijadikan referensi dalam dunia Learning and Development adalah model 70:20:10, sebuah kerangka pembelajaran yang diperkenalkan melalui penelitian Morgan McCall, Michael Lombardo, dan Robert Eichinger di Center for Creative Leadership.
Model ini tidak menyebut bahwa outbound adalah cara belajar terbaik.
Namun, konsep tersebut menunjukkan bahwa pengalaman langsung memiliki peran besar dalam pengembangan kompetensi di tempat kerja.
Karena itulah, program outbound yang dirancang dengan tujuan yang jelas dapat menjadi salah satu media pembelajaran berbasis pengalaman.
Lalu, apa hubungan antara konsep tersebut dengan EO Outbound Jakarta?
Model 70:20:10 merupakan kerangka yang menggambarkan bagaimana profesional mengembangkan kompetensinya sepanjang karier.
Secara sederhana, model ini membagi sumber pembelajaran menjadi tiga bagian.
Perlu dipahami bahwa angka tersebut bukan rumus matematika yang berlaku untuk semua orang. Sebaliknya, model ini digunakan sebagai panduan dalam merancang strategi pengembangan karyawan agar tidak hanya bergantung pada pelatihan di ruang kelas.
Bayangkan dua orang karyawan mengikuti pelatihan komunikasi.
Peserta pertama hanya mendengarkan presentasi selama beberapa jam.
Peserta kedua harus memimpin sebuah kelompok untuk menyelesaikan tantangan dengan waktu yang terbatas, menghadapi perbedaan pendapat, lalu mengevaluasi hasilnya bersama fasilitator.
Keduanya tetap belajar. Namun, pengalaman langsung sering kali memberikan kesempatan untuk menguji kemampuan mengambil keputusan, bekerja sama, dan beradaptasi dengan situasi yang tidak dapat diprediksi.
Dalam dunia kerja, pengalaman seperti inilah yang banyak membantu seseorang berkembang.
Outbound bukan bagian khusus dari model 70:20:10.
Akan tetapi, outbound dapat menjadi salah satu bentuk experiential learning atau pembelajaran melalui pengalaman apabila dirancang dengan tujuan yang jelas.
Artinya, permainan bukan menjadi tujuan utama.
Sebaliknya, permainan digunakan sebagai media untuk menciptakan situasi yang menuntut peserta agar:
Setelah aktivitas selesai, fasilitator biasanya mengajak peserta melakukan refleksi sehingga pengalaman tersebut memiliki makna yang dapat diterapkan kembali di lingkungan kerja.
Kalau setelah permainan selesai peserta hanya sibuk mencari siapa yang menyembunyikan sandal, berarti sesi refleksinya mungkin masih kurang panjang.
Perusahaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Kolaborasi lintas divisi, komunikasi antargenerasi, hingga perubahan teknologi membuat pengembangan kompetensi tidak cukup dilakukan melalui presentasi dan modul pelatihan.
Oleh karena itu, banyak organisasi mulai mengombinasikan beberapa metode pembelajaran, seperti:
Pendekatan yang beragam memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar melalui berbagai situasi yang berbeda.
Tidak semua kegiatan outbound memiliki tujuan yang sama. Program biasanya disusun sesuai kebutuhan perusahaan.
Beberapa jenis kegiatan yang sering digunakan antara lain:
Pemilihan program sebaiknya disesuaikan dengan tantangan yang sedang dihadapi perusahaan sehingga hasilnya lebih relevan.
Setiap perusahaan memiliki kebutuhan dan anggaran yang berbeda.
Oleh sebab itu, penyelenggara outbound biasanya menawarkan beberapa pilihan paket.
Di antaranya yaitu:
Paket tersebut umumnya dapat disesuaikan dengan jumlah peserta, lokasi kegiatan, durasi acara, hingga target pembelajaran yang ingin dicapai.
Setiap penyelenggara memiliki pendekatan yang berbeda dalam merancang kegiatan.
Kami dari Bellva, misalnya, memulai proses dengan memahami kebutuhan perusahaan terlebih dahulu.
Setelah tujuan kegiatan dipetakan, barulah aktivitas disusun agar selaras dengan kompetensi yang ingin dikembangkan, seperti komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, atau penyelesaian masalah.
Pendekatan tersebut membuat setiap permainan memiliki konteks yang jelas sehingga peserta tidak hanya menikmati aktivitas, tetapi juga memperoleh pengalaman yang dapat direfleksikan setelah kegiatan selesai.
Sebelum menentukan penyelenggara, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan.
Pada akhirnya, keberhasilan outbound tidak diukur dari seberapa banyak peserta berkeringat atau seberapa keras suara yel yel yang terdengar.
Program yang efektif adalah program yang mampu menghadirkan pengalaman bermakna, membuka ruang diskusi, lalu membantu peserta membawa kebiasaan positif kembali ke tempat kerja.
Itulah sebabnya EO Outbound Jakarta kini semakin banyak dipandang sebagai bagian dari strategi pengembangan tim.
Ketika program disusun dengan tujuan yang jelas, didukung fasilitator yang kompeten, serta diakhiri dengan refleksi yang tepat, outbound dapat menjadi salah satu pengalaman belajar yang bernilai bagi organisasi dalam jangka panjang.
Free Konsultasi untuk 10 Orang Pertama Hari ini
Ya, Saya Mau !