15 Games Outbound Seru untuk Team Building yang Bikin Tim Kompak dan Lupa Aduh

KALAU sebuah tim kantor sudah mulai punya gejala seperti makan siang bergerombol berdasarkan divisi, rapat terasa seperti sidang PBB, atau grup WhatsApp kantor lebih ramai ketika ada yang mengirim meme daripada ketika membahas pekerjaan, mungkin sudah waktunya melakukan sesuatu.

Salah satu cara yang banyak digunakan perusahaan adalah outbound dan team building.

Namun, ada satu hal yang sering keliru. Team building bukan berarti mengajak karyawan ke tempat outdoor, membagi mereka menjadi beberapa kelompok, lalu menyuruh semua orang berteriak sekeras mungkin.

Kalau begitu caranya, satpam kantor juga bisa naik jabatan menjadi fasilitator team building.

Permainan outbound yang dirancang dengan baik justru dapat menjadi media untuk melatih komunikasi, koordinasi, pemecahan masalah, kepemimpinan, kepercayaan, hingga kemampuan mengambil keputusan. Meta-analisis terhadap penelitian team building menemukan bahwa intervensi team building memiliki hubungan positif moderat dengan berbagai hasil tim, terutama aspek afektif dan proses kerja tim.

Karena itu, memilih games outbound sebaiknya tidak hanya berdasarkan pertanyaan, “Seru enggak?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah permainan selesai, perilaku apa yang ingin kita lihat berubah?”

Berikut 15 games outbound seru untuk team building yang bisa digunakan untuk membangun kekompakan tim dengan cara yang menyenangkan.

Kenapa Games Outbound Bisa Membantu Kekompakan Tim?

Sebelum masuk ke daftar permainan, kita perlu memahami satu hal.

Kekompakan tidak muncul secara ajaib hanya karena satu kantor pergi ke Lembang, makan bersama, lalu foto memakai seragam yang sama.

Kompak adalah hasil dari interaksi yang membuat anggota tim belajar memahami peran, berkomunikasi, menyelesaikan masalah bersama, dan mengambil keputusan sebagai kelompok.

Penelitian Salas dan kolega yang menganalisis 93 effect sizes dari 2.650 tim menemukan hubungan positif moderat antara pelatihan tim dengan berbagai hasil, termasuk proses kerja sama, aspek afektif, kemampuan kognitif, dan performa.

Artinya, permainan bisa menjadi media belajar yang menarik selama desainnya memang memiliki tujuan.

Dalam praktiknya, sebuah game outbound yang bagus biasanya memiliki tiga unsur.

Pertama, ada tujuan yang harus dicapai.

Kedua, ada keterbatasan atau tantangan yang memaksa peserta bekerja sama.

Ketiga, ada proses refleksi setelah permainan sehingga peserta memahami hubungan antara permainan dan situasi kerja.

Jadi, jangan sampai peserta pulang hanya membawa kaus basah, foto seribu frame, dan pegal selama tiga hari.

1. Blind Walk

Permainan ini sederhana, tetapi efek komunikasinya bisa cukup kuat.

Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Salah satu peserta ditutup matanya, kemudian anggota tim lainnya memberikan instruksi agar peserta tersebut melewati jalur tertentu.

Tantangannya adalah peserta yang ditutup matanya tidak boleh melihat kondisi di depannya.

Di sinilah komunikasi mulai diuji.

Instruksi seperti “maju sedikit” mungkin terdengar mudah. Namun, ketika ada batu, tali, cone, atau rintangan lain di depan peserta, kalimat tersebut bisa berubah menjadi sumber kekacauan nasional.

Karena itu, peserta belajar bahwa komunikasi efektif harus spesifik.

Daripada mengatakan “ke kanan”, lebih baik mengatakan “geser dua langkah ke kanan”.

Game ini cocok untuk melatih komunikasi, kepercayaan, kemampuan mendengar, dan ketepatan memberikan instruksi.

2. Human Knot

Human Knot atau simpul manusia adalah salah satu permainan klasik dalam team building.

Peserta berdiri membentuk lingkaran, kemudian masing-masing menggenggam tangan peserta lain secara silang. Setelah semua tangan terhubung, kelompok harus melepaskan simpul tersebut tanpa melepaskan pegangan.

Kelihatannya gampang.

Sampai semua orang mulai berputar ke arah yang berbeda.

Di sinilah muncul satu pelajaran menarik: semakin banyak orang berbicara tanpa mendengarkan, semakin sulit kelompok menemukan solusi.

Permainan ini dapat digunakan untuk melatih komunikasi, koordinasi, kesabaran, dan problem solving.

Fasilitator juga bisa mengamati siapa yang secara alami mengambil peran sebagai pemimpin, siapa yang menjadi pengikut, dan siapa yang sebenarnya punya ide bagus tetapi terlalu sibuk diam.

3. Tower Building

Dalam permainan Tower Building, peserta diminta membangun menara menggunakan material sederhana seperti stik, sedotan, kertas, tali, atau bahan lain yang aman.

Biasanya ada batas waktu.

Masalahnya, waktu terasa berjalan jauh lebih cepat ketika satu kelompok sedang berdebat menentukan siapa yang memegang stik.

Permainan ini sangat bagus untuk menguji perencanaan dan pembagian peran.

Tim perlu menentukan siapa yang menjadi perancang, siapa yang mengeksekusi, siapa yang mengawasi stabilitas struktur, dan siapa yang bertugas memastikan kelompok tidak terlalu lama rapat.

Tower Building juga bisa dikembangkan menjadi simulasi bisnis.

Misalnya, kelompok mendapatkan modal berupa poin dan harus membeli material. Dengan begitu, peserta harus mempertimbangkan biaya, risiko, kualitas, dan waktu.

4. Transfer Ball

Transfer Ball mengharuskan kelompok memindahkan bola dari satu titik ke titik lain menggunakan alat tertentu.

Aturannya dapat dibuat beragam.

Misalnya, peserta tidak boleh menyentuh bola dengan tangan secara langsung. Mereka harus menggunakan pipa, tali, sendok, atau media lainnya.

Permainan menjadi menarik karena setiap anggota memiliki peran.

Jika satu orang bergerak terlalu cepat, bola bisa jatuh. Jika terlalu lambat, waktu habis.

Pelajaran utamanya adalah koordinasi.

Dalam dunia kerja, situasinya mirip. Satu bagian bisa saja sudah menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi jika bagian lain belum siap, hasil akhirnya tetap tertunda.

5. Minefield

Minefield menggunakan area yang dibuat seperti medan penuh ranjau.

Tentu saja ranjaunya bukan ranjau sungguhan. Kita masih ingin pulang dengan jumlah kaki yang sama.

Area permainan diberi berbagai rintangan. Salah satu peserta harus melewatinya dengan mata tertutup berdasarkan instruksi anggota kelompok.

Peserta lain berada di luar area dan menjadi pemberi arahan.

Permainan ini cocok untuk melatih kepercayaan dan komunikasi.

Versi yang lebih menarik dapat menambahkan batasan komunikasi. Misalnya, hanya satu orang yang boleh memberikan instruksi.

Dengan demikian, kelompok harus menentukan siapa komunikator utama dan bagaimana anggota lain mendukung keputusan tersebut.

6. Pipa Bocor

Dalam permainan Pipa Bocor, kelompok harus memindahkan air dari satu titik ke titik lain menggunakan pipa yang memiliki lubang.

Kedengarannya seperti pekerjaan tukang ledeng.

Bedanya, kelompok punya waktu terbatas dan semua anggota harus bekerja sama agar air tidak habis di tengah perjalanan.

Game ini bagus untuk melatih koordinasi dan adaptasi.

Peserta juga akan menyadari bahwa masalah tidak selalu bisa diselesaikan dengan satu strategi. Ketika strategi pertama gagal, kelompok harus cepat mengevaluasi dan mencoba pendekatan lain.

7. Estafet Air

Estafet Air termasuk permainan yang mudah dipahami dan biasanya cepat mengundang tawa.

Peserta harus memindahkan air dari satu wadah ke wadah lain menggunakan alat tertentu. Bisa memakai gelas, spons, mangkuk, atau media lain sesuai konsep permainan.

Kelompok dengan jumlah air terbanyak menjadi pemenang.

Yang menarik, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh peserta tercepat.

Jika orang pertama terlalu agresif dan air tumpah di tengah jalan, peserta terakhir hanya akan menerima warisan berupa wadah kosong dan penyesalan.

Permainan ini mengajarkan bahwa kecepatan harus diimbangi koordinasi.

8. Puzzle Race

Puzzle Race menggabungkan kecepatan, komunikasi, analisis, dan kerja sama.

Setiap kelompok mendapatkan puzzle yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu.

Agar lebih menarik, beberapa bagian puzzle dapat disebar di lokasi berbeda sehingga peserta harus mencari dan mengumpulkannya terlebih dahulu.

Fasilitator dapat membuat puzzle berupa gambar, kata, logo, angka, atau pesan tertentu.

Permainan ini sangat cocok untuk kelompok yang ingin mengembangkan kemampuan problem solving.

Hal menarik lainnya adalah gaya kerja setiap orang biasanya mulai terlihat.

Ada yang langsung menyusun.

Ada yang membaca instruksi.

Ada yang mencari pola.

Ada pula yang sejak awal mengatakan, “Kayaknya ini salah,” tetapi tidak menawarkan solusi.

Semua tipe tersebut bisa menjadi bahan refleksi setelah permainan.

9. Treasure Hunt

Treasure Hunt adalah pilihan yang bagus untuk outbound dengan area cukup luas.

Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan petunjuk untuk menemukan titik atau benda tertentu.

Setiap titik bisa berisi tantangan.

Misalnya teka-teki, aktivitas fisik ringan, pertanyaan perusahaan, puzzle, atau misi tertentu.

Dengan konsep ini, peserta tidak hanya berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka harus menyusun strategi dan menentukan pembagian tugas.

Game ini juga bisa dibuat dengan tema perusahaan.

Misalnya, setiap petunjuk berkaitan dengan nilai perusahaan, sejarah organisasi, produk, atau target bisnis.

Hasilnya, permainan terasa lebih relevan dengan kehidupan kantor.

10. Spider Web

Spider Web menggunakan tali yang disusun menyerupai jaring dengan berbagai lubang.

Tugas kelompok adalah memindahkan seluruh anggota melewati jaring tanpa menyentuh tali.

Biasanya ada aturan bahwa satu lubang hanya boleh digunakan sekali.

Di sinilah strategi mulai bekerja.

Kelompok harus menentukan siapa yang melewati lubang tertentu, siapa yang membantu dari sisi lain, dan bagaimana anggota dengan kemampuan fisik berbeda tetap dapat berpartisipasi.

Permainan ini bagus untuk mengembangkan perencanaan, komunikasi, kepemimpinan, dan rasa saling membantu.

Tantangannya juga membuat peserta memahami bahwa strategi yang bagus harus mempertimbangkan kemampuan seluruh anggota.

11. Pindah Pulau

Pindah Pulau menggunakan sejumlah alas sebagai “pulau”.

Kelompok harus berpindah dari titik awal menuju titik akhir tanpa menginjak area yang dianggap sebagai air.

Jumlah alas biasanya terbatas.

Akibatnya, peserta harus saling membantu dan mengatur posisi.

Kalau ada yang mengambil semua alas untuk dirinya sendiri, kemungkinan besar kelompok akan segera mengadakan rapat luar biasa.

Game ini mengajarkan resource management, komunikasi, dan koordinasi.

Permainan dapat dibuat semakin sulit dengan memberikan batas waktu atau mengurangi jumlah alas.

12. Komunikasi Berantai

Permainan ini cocok untuk menunjukkan betapa mudahnya informasi berubah ketika berpindah dari satu orang ke orang lain.

Peserta pertama mendapatkan pesan atau gambar tertentu.

Ia kemudian menjelaskan kepada peserta berikutnya tanpa menunjukkan materi asli.

Informasi diteruskan sampai peserta terakhir.

Pada akhir permainan, peserta terakhir harus menyampaikan hasilnya.

Biasanya hasilnya cukup menghibur.

Kalimat “tiga orang memakai topi merah” bisa berubah menjadi “ada tiga ayam merah sedang naik motor.”

Namun, di balik kelucuannya terdapat pelajaran penting.

Informasi yang tidak jelas dapat menghasilkan interpretasi berbeda.

Dalam pekerjaan, masalah semacam ini bisa muncul ketika instruksi, target, atau tanggung jawab tidak disampaikan dengan jelas.

13. Marshmallow Challenge

Dalam versi outbound, peserta mendapatkan material sederhana untuk membangun struktur tertinggi dengan sebuah benda ringan di bagian atas.

Kelompok memiliki waktu terbatas.

Mereka harus melakukan eksperimen, menguji struktur, kemudian memperbaikinya.

Permainan ini bagus untuk membangun kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan.

Hal menarik dari permainan semacam ini adalah peserta belajar bahwa rencana pertama belum tentu menjadi rencana terbaik.

Kadang-kadang struktur yang terlihat sangat keren justru roboh lima detik sebelum waktu habis.

Dan biasanya, saat itulah seluruh anggota tim mendadak menjadi ahli konstruksi.

14. Mission Impossible

Mission Impossible merupakan konsep permainan yang dapat menggabungkan beberapa tantangan dalam satu rangkaian.

Kelompok diberikan misi utama yang terdiri dari beberapa tugas.

Misalnya menyelesaikan kode, mencari objek, melewati rintangan, menyusun puzzle, dan menjawab pertanyaan.

Setiap tantangan menghasilkan petunjuk menuju tantangan berikutnya.

Konsep ini cocok untuk perusahaan yang ingin membuat outbound lebih tematik.

Misalnya, tema dapat dibuat seperti ekspedisi, penyelamatan, detektif, perjalanan waktu, atau misi perusahaan.

Kelebihannya, peserta tidak cepat bosan karena jenis tantangannya berubah.

15. Giant Ball Transfer

Permainan terakhir cocok untuk menciptakan suasana yang lebih heboh.

Peserta harus memindahkan bola berukuran besar dari titik awal menuju titik akhir menggunakan tubuh, alat bantu, atau media tertentu sesuai aturan permainan.

Kuncinya adalah koordinasi.

Jika satu orang bergerak terlalu cepat, bola akan kehilangan keseimbangan.

Jika semua orang bergerak tanpa komando, permainan bisa berubah menjadi adegan film komedi.

Karena itu, kelompok perlu menentukan ritme, komunikasi, dan pemimpin permainan.

Game ini cocok dijadikan salah satu permainan penutup karena biasanya energinya cukup tinggi dan bisa menciptakan momen yang memorable.

Bagaimana Memilih Games Outbound yang Tepat?

Tidak semua permainan cocok untuk semua kelompok.

Jumlah peserta, usia, kondisi fisik, lokasi, tujuan kegiatan, hingga durasi acara harus dipertimbangkan.

Untuk perusahaan dengan jumlah peserta besar, permainan sebaiknya menggunakan sistem pos atau rotasi. Dengan begitu, peserta tidak terlalu lama menunggu giliran.

Untuk kelompok yang ingin meningkatkan komunikasi, pilih permainan seperti Blind Walk, Minefield, atau Komunikasi Berantai.

Untuk melatih problem solving, Puzzle Race, Tower Building, dan Mission Impossible bisa menjadi pilihan.

Sementara itu, untuk membangun koordinasi, Transfer Ball, Spider Web, Pindah Pulau, dan Pipa Bocor dapat dikembangkan menjadi permainan yang menarik.

Yang juga penting adalah tingkat kesulitan.

Game yang terlalu mudah akan terasa hambar. Sebaliknya, game yang terlalu sulit bisa membuat peserta sibuk menyalahkan aturan.

Karena itu, fasilitator perlu menyesuaikan tantangan dengan karakter peserta.

Jangan Lupakan Sesi Debrief

Ini bagian yang sering dianggap sepele.

Padahal, debrief merupakan salah satu bagian penting dalam team building.

Setelah permainan selesai, fasilitator dapat mengajak peserta membahas beberapa pertanyaan.

Apa yang terjadi selama permainan?

Siapa yang mengambil keputusan?

Bagaimana kelompok berkomunikasi?

Apa yang membuat strategi berhasil atau gagal?

Apa hubungannya dengan pekerjaan sehari-hari?

Pertanyaan terakhir biasanya paling penting.

Sebab, tujuan team building bukan membuat peserta hebat bermain game selama satu hari. Tujuannya adalah membantu peserta menemukan pola perilaku yang bisa dibawa kembali ke lingkungan kerja.

Penelitian tentang team building menunjukkan bahwa dampaknya paling kuat pada aspek afektif dan proses kerja tim, sehingga refleksi terhadap cara tim bekerja menjadi bagian yang masuk akal untuk diperhatikan.

Keselamatan Tetap Nomor Satu

Games outbound harus menyenangkan, tetapi keselamatan peserta tidak boleh dikorbankan demi mengejar konten yang terlihat keren.

Sebelum permainan dimulai, fasilitator perlu menjelaskan aturan, kondisi area, batas permainan, serta hal-hal yang harus dihindari.

Permainan fisik juga perlu disesuaikan dengan kondisi peserta.

Tidak semua karyawan punya stamina seperti atlet.

Orang yang sehari-hari bekerja di depan laptop delapan jam mungkin akan merasa sangat tertantang ketika diminta berlari sambil membawa ember.

Karena itu, desain permainan sebaiknya inklusif dan memberi kesempatan kepada seluruh peserta untuk berkontribusi sesuai kemampuannya.

Games Seru Itu Bagus, Tetapi Konsep yang Tepat Jauh Lebih Penting

Lima belas permainan di atas dapat menjadi referensi untuk membuat team building lebih hidup.

Namun, permainan hanyalah alat.

Yang menentukan hasil akhirnya adalah bagaimana permainan tersebut dirancang, difasilitasi, dan dihubungkan dengan tujuan kegiatan.

Perusahaan yang ingin meningkatkan komunikasi tentu membutuhkan desain permainan berbeda dengan perusahaan yang sedang menghadapi masalah koordinasi antardivisi.

Begitu pula perusahaan yang ingin memperkuat leadership membutuhkan pendekatan berbeda dengan kegiatan yang tujuan utamanya adalah refreshing.

Karena itu, program outbound yang baik seharusnya dimulai dari tujuan, kemudian memilih aktivitas yang paling relevan.

Jika Anda sedang mencari tim profesional untuk merancang kegiatan tersebut, Anda dapat melihat layanan EO Outbound Bandung dari Bellva Adventure Indonesia. Bellva menyebutkan bahwa mereka menangani outbound, team building, gathering, outing, rafting, offroad, paintball, dan berbagai kegiatan perusahaan dengan program yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien.

Pada akhirnya, team building yang bagus bukan yang membuat peserta paling capek.

Team building yang bagus adalah kegiatan yang membuat peserta pulang sambil tertawa, merasa lebih dekat dengan rekan kerja, lalu membawa satu atau dua pelajaran penting untuk diterapkan ketika kembali ke kantor.

Karena kalau setelah outbound mereka tetap saling lempar email dengan kalimat “sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya”, setidaknya kita tahu masih ada PR untuk sesi berikutnya.

FAQ Games Outbound untuk Team Building

Apa saja games outbound yang cocok untuk team building?

Beberapa pilihan yang dapat digunakan antara lain Blind Walk, Human Knot, Tower Building, Transfer Ball, Minefield, Pipa Bocor, Puzzle Race, Treasure Hunt, Spider Web, Pindah Pulau, Mission Impossible, dan Giant Ball Transfer.

Apakah games outbound harus selalu dilakukan di alam terbuka?

Tidak. Banyak permainan team building dapat dilakukan di halaman hotel, lapangan, area resort, ruang meeting, maupun lokasi indoor. Pemilihan permainan perlu menyesuaikan tujuan kegiatan, jumlah peserta, kondisi lokasi, dan faktor keselamatan.

Berapa jumlah peserta ideal untuk games outbound?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua permainan. Untuk peserta dalam jumlah besar, sistem kelompok dan rotasi pos dapat digunakan agar setiap orang tetap aktif dan waktu menunggu dapat dikurangi.

Apakah games outbound benar-benar bisa meningkatkan kekompakan tim?

Penelitian meta-analisis menemukan hubungan positif moderat antara team building dan berbagai hasil kerja tim, termasuk aspek kognitif, afektif, proses, dan performa. Namun, hasil kegiatan tetap bergantung pada desain program, karakter peserta, fasilitasi, dan tujuan yang ingin dicapai.

Apa yang harus dilakukan setelah games outbound selesai?

Lakukan debrief atau refleksi. Fasilitator dapat mengajak peserta membahas strategi, komunikasi, pembagian peran, konflik, keputusan, serta hubungan pengalaman permainan dengan situasi kerja sehari-hari.

Apakah semua games outbound cocok untuk semua karyawan?

Tidak. Permainan harus disesuaikan dengan usia, kondisi fisik, jumlah peserta, lokasi, durasi, tujuan kegiatan, dan tingkat kenyamanan peserta. Faktor keselamatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum menentukan permainan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Lainnya
SOLUSI Acara Kantor Jadi Spektakuler, Bos Senang Tanpa Drama!

Free Konsultasi untuk 10 Orang Pertama Hari ini

Promo Ya, Saya Mau !