ADA SATU anggapan yang sering muncul ketika perusahaan merencanakan outbound untuk BUMN di Bandung: yang penting karyawannya senang, pulang membawa kaus, foto bersama, lalu Senin kembali ke kantor.
Kalau konsepnya seperti itu, namanya lebih cocok piknik kantor. Outbound yang dirancang untuk lingkungan BUMN membutuhkan pendekatan yang jauh lebih serius, meskipun pelaksanaannya tetap boleh penuh tawa.
Apalagi, kebutuhan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan BUMN berkaitan erat dengan budaya kerja, kolaborasi, kepemimpinan, komunikasi, adaptasi, hingga implementasi nilai AKHLAK.
Kementerian BUMN menetapkan Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif sebagai core values SDM BUMN melalui Surat Edaran Menteri BUMN Nomor SE-7/MBU/07/2020. Implementasinya kemudian dikembangkan melalui AKHLAK Culture Journey.
Karena itu, outbound BUMN di Bandung idealnya dirancang sebagai kegiatan experiential learning. Peserta bermain, tertawa, berkompetisi, sekaligus belajar menghadapi situasi yang sengaja dibuat menyerupai tantangan di lingkungan kerja.

BUMN memiliki karakter organisasi yang beragam. Ada perusahaan yang bergerak di bidang energi, konstruksi, perbankan, transportasi, telekomunikasi, hingga sektor strategis lainnya.
Jumlah peserta pun dapat mencapai puluhan bahkan ratusan orang dengan jabatan, usia, pengalaman, dan latar belakang yang berbeda.
Artinya, permainan yang cocok untuk komunitas kecil belum tentu cocok untuk kegiatan BUMN.
Kalau permainan terlalu mudah, peserta bisa merasa seperti sedang mengikuti lomba tujuh belasan versi kantor.
Kalau terlalu ekstrem, bagian HR mungkin yang lebih dulu membutuhkan outbound.
Karena itu, desain program perlu mempertimbangkan tujuan, profil peserta, kondisi fisik, struktur organisasi, waktu kegiatan, serta nilai perusahaan yang ingin diperkuat.

Bandung dan kawasan sekitarnya mempunyai banyak pilihan lokasi yang mendukung kegiatan corporate gathering dan outbound.
Kawasan Lembang dan Cikole, misalnya, menawarkan suasana alam pegunungan yang dapat digunakan untuk kegiatan outdoor, team building, leadership activity, hingga permainan berbasis problem solving.
Perubahan suasana dari kantor ke lingkungan alam juga membantu menciptakan atmosfer interaksi yang lebih cair.
Di kantor, seseorang mungkin terbiasa berbicara dalam bahasa rapat.
Di lapangan, setelah melihat temannya nyangkut di jaring permainan, bahasa rapat biasanya berubah menjadi, “Pak, tarik saya!”
Di situlah komunikasi informal mulai muncul.
Namun, suasana santai tetap harus dibarengi desain kegiatan yang terukur. Lokasi bagus tidak otomatis menghasilkan program bagus. Hutan pinus bukan fasilitator. Kolam lumpur juga tidak punya sertifikat trainer.

Program outbound sebaiknya mempunyai hubungan yang jelas dengan nilai Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Misalnya, permainan membangun menara dapat diarahkan untuk menguji kemampuan pembagian tugas dan komunikasi.
Permainan strategi dapat digunakan untuk menguji kemampuan mengambil keputusan.
Simulasi perubahan aturan dapat digunakan untuk melihat kemampuan adaptasi.
Sementara itu, permainan kelompok dapat diarahkan untuk memperkuat kolaborasi.
Dengan pendekatan tersebut, aktivitas tidak berhenti pada kesenangan. Peserta mendapatkan pengalaman yang kemudian dibahas bersama melalui sesi refleksi.
Kementerian BUMN sendiri menjelaskan bahwa AKHLAK Culture Journey diarahkan agar nilai tersebut berkembang sampai pada perubahan perilaku dan memberikan dampak terhadap kinerja organisasi.
Dalam kegiatan BUMN, peserta biasanya datang dari berbagai level.
Ada staf, supervisor, manajer, pimpinan unit, bahkan jajaran manajemen.
Pembagian kelompok karena itu perlu dipikirkan secara strategis.
Jangan sampai satu kelompok berisi semua orang dari departemen yang sama. Jika itu terjadi, peserta mungkin tetap kompak, tetapi tujuan lintas fungsi justru kurang terasa.
Kelompok campuran dapat membuat peserta berinteraksi dengan rekan kerja yang sehari-hari jarang berhubungan.
Dari sini, outbound dapat menjadi ruang untuk memperkuat networking internal.
Tidak semua peserta mempunyai kondisi fisik yang sama.
Ada yang rajin olahraga.
Ada yang olahraga hanya ketika mengejar lift.
Ada pula peserta yang secara usia atau kondisi tertentu membutuhkan aktivitas dengan intensitas lebih ringan.
Karena itu, program sebaiknya memiliki beberapa level aktivitas dan alternatif permainan.
Outbound BUMN yang baik tidak mengukur kekompakan dari siapa yang paling cepat berlari. Kekompakan justru terlihat dari bagaimana kelompok memastikan semua anggotanya dapat berpartisipasi.
Hal tersebut juga sejalan dengan semangat lingkungan kerja yang saling menghargai. Kementerian BUMN memiliki Respectful Workplace Policy yang menekankan lingkungan kerja bebas dari diskriminasi, pelecehan, perundungan, dan berbagai bentuk kekerasan.
Ini bagian yang sering dianggap membosankan, padahal sangat penting.
Setiap kegiatan outdoor harus mempunyai prosedur keselamatan yang jelas.
Mulai dari pemeriksaan lokasi, briefing peserta, perlengkapan keselamatan, kesiapan fasilitator, pengaturan aktivitas, hingga prosedur menghadapi kondisi darurat.
Kegiatan seperti rafting, paintball, hiking, high rope, atau permainan berbasis tantangan fisik membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih serius dibanding permainan indoor.
Jangan sampai agenda team building berubah menjadi agenda mencari klinik terdekat.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah menyusun kegiatan dalam beberapa tahap.
Kegiatan diawali dengan permainan ringan untuk mencairkan suasana.
Tujuannya membuat peserta lebih terbuka dan siap berinteraksi.
Bagian ini penting karena tidak semua karyawan langsung berubah menjadi manusia paling komunikatif hanya karena pindah lokasi dari ruang meeting ke lapangan.
Peserta kemudian mengikuti permainan yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, pembagian peran, dan strategi.
Contohnya adalah problem solving games, blind communication, trust games, estafet strategi, hingga tantangan membangun konstruksi sederhana.
Setiap permainan sebaiknya mempunyai tujuan pembelajaran yang jelas.
Untuk peserta level supervisor hingga manajemen, program dapat dikembangkan menjadi simulasi kepemimpinan.
Peserta diberikan masalah, sumber daya terbatas, batas waktu, dan target tertentu.
Fasilitator kemudian mengamati cara peserta mengambil keputusan.
Siapa yang mengambil alih?
Siapa yang mendengarkan?
Siapa yang terlalu banyak bicara?
Siapa yang punya ide bagus tetapi kalah volume?
Nah, bagian seperti ini justru menarik karena perilaku peserta bisa terlihat secara alami.
Lingkungan bisnis berubah cepat.
Karena itu, kemampuan beradaptasi juga penting.
Dalam permainan, aturan dapat dibuat berubah di tengah aktivitas. Tim yang awalnya sudah menemukan strategi harus menyesuaikan pendekatan ketika kondisi berubah.
Tujuannya bukan membuat peserta stres.
Tujuannya menunjukkan bahwa strategi yang berhasil hari ini belum tentu relevan ketika situasi berubah.
Ini bagian yang membedakan outbound biasa dengan program experiential learning.
Setelah permainan selesai, fasilitator mengajak peserta membahas pengalaman.
Apa yang terjadi?
Apa penyebab tim berhasil?
Apa yang membuat komunikasi kacau?
Siapa yang mengambil peran pemimpin?
Bagaimana kelompok menghadapi konflik?
Bagaimana pengalaman tersebut berkaitan dengan pekerjaan?
Dari sini, permainan dapat dihubungkan kembali dengan nilai AKHLAK.
Kementerian BUMN menempatkan AKHLAK sebagai identitas sekaligus perekat budaya kerja yang mendukung peningkatan kinerja berkelanjutan.
Ada kecenderungan bahwa outbound dianggap semakin bagus kalau semakin ekstrem.
Padahal, tujuan kegiatan bukan mencari siapa yang paling berani memanjat tebing.
Kalau targetnya meningkatkan kolaborasi, permainan sederhana pun bisa sangat efektif.
Misalnya, satu tim diberikan sejumlah bahan untuk membuat jembatan mini. Mereka harus menentukan desain, membagi tugas, mengatur waktu, dan menyelesaikan tantangan.
Permainannya sederhana.
Pelajarannya bisa panjang.
Karena itu, desain program sebaiknya mengikuti kebutuhan organisasi, bukan mengikuti tren permainan.
Bandung mempunyai keunggulan dari sisi akses, variasi lokasi, suasana, serta pilihan akomodasi.
Perusahaan dapat memilih konsep kegiatan satu hari atau beberapa hari dengan kombinasi meeting, outbound, gathering, gala dinner, dan wisata.
Untuk perusahaan dengan jumlah peserta besar, agenda dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sehingga kegiatan tetap terkendali.
Kawasan Lembang juga cocok untuk perusahaan yang ingin menggabungkan kegiatan formal dan informal dalam satu rangkaian acara.
Pagi digunakan untuk aktivitas team building.
Siang dilanjutkan dengan sesi refleksi atau leadership challenge.
Malam bisa diisi gala dinner, awarding, atau entertainment.
Besoknya peserta pulang dengan badan sedikit pegal dan grup WhatsApp yang mendadak penuh foto.
Itu masih normal.
Perusahaan sebaiknya tidak memilih penyedia berdasarkan harga termurah saja.
Ada beberapa hal yang perlu diperiksa.
Pertama, pengalaman menangani corporate event.
Kedua, kemampuan menyusun program sesuai tujuan perusahaan.
Ketiga, kualitas fasilitator.
Keempat, standar keselamatan kegiatan.
Kelima, kemampuan mengelola jumlah peserta.
Keenam, fleksibilitas dalam menyesuaikan program.
Ketujuh, kejelasan proposal dan anggaran.
Kedelapan, kemampuan melakukan evaluasi setelah kegiatan.
Untuk perusahaan yang sedang mencari partner kegiatan, informasi mengenai layanan dan konsep kegiatan dapat dilihat melalui EO Outbound Bandung.
Outbound untuk BUMN di Bandung membutuhkan perencanaan yang lebih matang dibanding kegiatan rekreasi biasa.
Program yang baik harus mampu menggabungkan unsur hiburan, pembelajaran, kolaborasi, kepemimpinan, adaptasi, komunikasi, serta keselamatan.
Yang paling penting, setiap permainan harus mempunyai alasan.
Jangan sampai peserta ditanya, “Pelajaran dari permainan tadi apa?”
Lalu jawabannya, “Supaya sehat.”
Itu namanya ikut senam, bukan outbound corporate.
Untuk BUMN, outbound idealnya dirancang sebagai pengalaman yang membantu peserta memahami perilaku kerja melalui simulasi nyata. Ketika aktivitas dikaitkan dengan nilai AKHLAK, tujuan organisasi, dan kebutuhan pengembangan SDM, kegiatan di lapangan dapat memberikan manfaat yang jauh lebih relevan.
Dengan desain yang tepat, Bandung bukan hanya tempat untuk mengajak karyawan keluar dari kantor.
Bandung dapat menjadi ruang untuk menguji cara tim berkomunikasi, mengambil keputusan, beradaptasi, menyelesaikan masalah, dan bekerja bersama.
Dan ketika peserta kembali ke kantor, harapannya bukan cuma membawa foto grup.
Mudah-mudahan membawa cara kerja tim yang lebih kompak juga.
Outbound untuk BUMN adalah program kegiatan luar ruang yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan karyawan melalui pengalaman langsung, seperti komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, problem solving, adaptasi, dan penguatan budaya organisasi.
Karena AKHLAK merupakan core values SDM BUMN yang mencakup Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Program outbound dapat menjadi media experiential learning untuk membantu peserta memahami penerapan nilai tersebut dalam perilaku kerja.
Tidak. Tingkat kesulitan aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan tujuan program, karakter peserta, kondisi fisik, lokasi, serta standar keselamatan. Permainan sederhana dengan desain yang tepat dapat memberikan pembelajaran yang kuat.
Sangat cocok. Pembagian kelompok lintas divisi dapat mendorong interaksi antarkaryawan yang sehari-hari mungkin jarang bekerja bersama. Aktivitas tersebut dapat digunakan untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi.
Beberapa pilihan antara lain team building games, problem solving, leadership challenge, communication games, trust building, strategic games, fun competition, rafting, paintball, serta aktivitas outdoor lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Durasi dapat disusun mulai dari setengah hari, satu hari penuh, hingga beberapa hari. Penentuan durasi sebaiknya mengikuti tujuan kegiatan dan rangkaian agenda perusahaan.
Gathering biasanya lebih berfokus pada kebersamaan dan hiburan, sedangkan outbound BUMN dapat dirancang dengan tujuan pembelajaran yang lebih terukur. Peserta mengikuti aktivitas, mendapatkan pengalaman, kemudian melakukan refleksi untuk menghubungkannya dengan pekerjaan.
Bisa. Program dapat dirancang dalam format corporate retreat yang menggabungkan meeting, team building, outbound, gala dinner, awarding, dan aktivitas rekreasi sesuai kebutuhan perusahaan.
Free Konsultasi untuk 10 Orang Pertama Hari ini
Ya, Saya Mau !